Kira-kira sebulan yang lalu saya dan suami pergi mengunjungi tugu katulistiwa. Sebagai seorang pendatang baru yang baru saja tinggal di pulau borneo ini wajar klo rasa penasaran akan tempat wisata serta tempat-tempat yang unik di pulau ini khususnya kalimantan barat menjadi hal yang menarik. Setelah sholat dhuhur kami bergegas untuk bersiap-siap ke tugu katulistiwa di Pontianak. Dari lanud supadio pontianak kalimantan barat tugu ini berjarak kira-kira 30 km... tepatnya di kota Pontianak. Perjalanan yang kami tempuh kira-kira 1,5 jam. Cuaca di siang itu mendung dan beberapa waktu kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Karena kami pergi ke tugu khatulistiwa dengan mengendarai motor jadi kami pun berteduh disebuah warung kecil hingga sejam lamanya.
karena baru pertama kali saya berkunjung ke tugu katulistiwa di daerah. ini rasanya jauh sekali.
Perjalanan akhirnya mencapai tujuan ...akhirnya sampai juga aku pada titik dimana tempat yang namanya Equator dunia, di titik 00,00 derajat.
lelahnya perjalanan kini berganti dengan rasa lega yang menyeruak di hati.....Katulistiwa aku dataaaaaang....

Inilah salah satu keunggulan dari letak geografis Indonesia. Sepertinya semua anugerah diturunkan tepat di tanah-air kita ini. Seandainya bumi dibagi menjadi dua bagian utara dan selatan, maka kota Pontianak persis berada di tengah-tengah belahan tersebut. Maka sebagai penanda, dibangunlah sebuah tugu yang dinamakan Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument. Tugu Khatulistiwa merupakan salah satu tugu yang didirikan pada 31 Maret 1928 oleh rombongan ekspedisi internasional yang dipimpin oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik atau tonggak equator di kota Pontianak. Berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.Tugu yang merupakan ikon kota Pontianak ini dibangun untuk menandai garis khayal pada garis lintang nol derajat yang terletak di Siantan, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Pontianak ke arah Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak.
Inilah salah satu keunggulan dari letak geografis Indonesia. Sepertinya semua anugerah diturunkan tepat di tanah-air kita ini. Seandainya bumi dibagi menjadi dua bagian utara dan selatan, maka kota Pontianak persis berada di tengah-tengah belahan tersebut. Maka sebagai penanda, dibangunlah sebuah tugu yang dinamakan Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument. Tugu Khatulistiwa merupakan salah satu tugu yang didirikan pada 31 Maret 1928 oleh rombongan ekspedisi internasional yang dipimpin oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik atau tonggak equator di kota Pontianak. Berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.Tugu yang merupakan ikon kota Pontianak ini dibangun untuk menandai garis khayal pada garis lintang nol derajat yang terletak di Siantan, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Pontianak ke arah Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak.
Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk kembali menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan Global Positioning System (GPS).
Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur. Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini.Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, Kelurahan Siantan Hilir.Menariknya, tugu yang bertuliskan “EVENAAR” sepanjang 2,11 meter ini adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yaitu fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis Khatulistiwa. Pada saat itu matahari tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Pada peristiwa titik kulminasi tersebut, bayangan Tugu akan menghilang beberapa detik saat terkena sinar matahari, demikian juga dengan bayangan-bayangan benda-benda lain di sekitar tugu. Peristiwa tersebut berlangsung dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 21 – 23 Maret dan 21 – 23 September. Maka tak heran jika pada waktu tersebut tugu ini banyak dikunjungi.
Peristiwa kulminasi ini hanya terjadi di lima negara, antara lain di Indonesia, Equador, Peru, Columbia, dan Brazil. Namun dari semua negara yang mengalami peristiwa alam tersebut, hanya satu yang benar-benar dilintasi oleh garis khatulistiwa, yaitu Kota Pontianak, Indonesia. Bangunan tugu terdiri dari empat buah tonggak kayu belian atau kayu ulin (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 m dengan ketinggian tonggak bagian depan setinggi 3,05 m dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 m.
Adapun bentuk dari tugu ini telah mengalami perubahan sebanyak empat kali yaitu:
- Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
- Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkaran dan anak panah.
- Pada tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat di dalam gedung.
- Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
SUMBER :http://www.wacananusantara.org/tugu-khatulistiwa-di-pontianak/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar